Bahasa dalam Penyebaran Informasi Bencana: Kunci Komunikasi Efektif dalam Menghadapi Gempa Megathrust

Indonesia, sebagai negara yang berada di wilayah cincin api Pasifik, kerap kali menghadapi risiko gempa bumi yang tinggi, termasuk ancaman gempa megathrust. Dalam situasi darurat seperti ini, penyebaran informasi yang cepat dan akurat menjadi sangat penting. Namun, tidak hanya kecepatan yang menjadi faktor penentu keberhasilan komunikasi risiko bencana, tetapi juga bagaimana informasi tersebut disampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami oleh semua kalangan masyarakat.

Pentingnya Penyampaian Informasi yang Jelas dan Efektif
Ketika bencana melanda, masyarakat membutuhkan informasi yang dapat membantu mereka mengambil tindakan cepat dan tepat. Informasi ini meliputi peringatan dini, instruksi evakuasi, dan penjelasan mengenai langkah-langkah mitigasi yang harus diambil. Namun, seringkali, informasi yang disampaikan oleh otoritas terkait mengandung istilah teknis yang sulit dipahami oleh masyarakat umum.
Misalnya, istilah seperti "magnitudo", "episentrum", dan "liquefaksi" mungkin akrab di telinga para ahli geologi, tetapi bisa menjadi kebingungan bagi masyarakat awam. Ketika informasi yang disampaikan tidak dipahami dengan baik, potensi kekacauan dan ketidakpatuhan terhadap instruksi meningkat. Oleh karena itu, penggunaan bahasa yang sederhana dan penyederhanaan istilah teknis menjadi sangat penting dalam penyebaran informasi bencana.
Tantangan dalam Menerjemahkan Istilah Teknis
Menerjemahkan istilah teknis ke dalam bahasa yang lebih sederhana tidaklah mudah. Hal ini membutuhkan kerja sama antara ahli bahasa dan ilmuwan untuk memastikan bahwa pesan yang disampaikan tetap akurat namun dapat dipahami oleh semua kalangan. Salah satu tantangan utama adalah menemukan padanan kata atau frasa yang tepat tanpa mengorbankan makna ilmiah yang terkandung dalam istilah tersebut.
Sebagai contoh, istilah "liquefaksi" dapat dijelaskan sebagai "tanah yang menjadi seperti lumpur akibat getaran gempa." Penjelasan ini memberikan gambaran yang lebih konkret dan mudah dipahami oleh masyarakat awam. Namun, tetap penting untuk mendidik masyarakat tentang istilah-istilah teknis ini melalui program-program literasi bencana agar mereka semakin familiar dan dapat merespons dengan cepat ketika istilah tersebut muncul dalam komunikasi darurat.
Menggunakan Bahasa Lokal dalam Komunikasi Bencana
Indonesia memiliki lebih dari 700 bahasa daerah, yang merupakan kekayaan budaya sekaligus tantangan dalam penyebaran informasi bencana. Menggunakan bahasa lokal dalam komunikasi risiko dapat meningkatkan pemahaman dan keterlibatan masyarakat setempat. Contohnya, di wilayah-wilayah yang menggunakan bahasa Jawa atau Sunda, pesan-pesan peringatan bencana dapat disampaikan dalam bahasa lokal tersebut untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat dapat menerima informasi dengan jelas.
Dalam beberapa tahun terakhir, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah mulai menerjemahkan panduan dan materi edukasi bencana ke dalam beberapa bahasa daerah. Langkah ini sangat positif, namun perlu diperluas lagi agar mencakup lebih banyak wilayah dan bahasa.
Teknologi dan Inovasi dalam Penyebaran Informasi
Dengan perkembangan teknologi, penyebaran informasi bencana kini dapat dilakukan melalui berbagai platform, mulai dari media sosial hingga aplikasi berbasis ponsel. Aplikasi seperti "InaRISK" dan sistem peringatan dini berbasis SMS yang dikembangkan oleh BNPB memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan informasi real-time tentang potensi gempa dan tsunami.
Namun, meskipun teknologi telah memudahkan distribusi informasi, tantangan tetap ada dalam hal literasi digital. Tidak semua masyarakat, terutama di daerah terpencil, memiliki akses atau pemahaman yang baik tentang teknologi digital. Oleh karena itu, perlu adanya strategi komunikasi yang menggabungkan pendekatan digital dengan metode konvensional seperti penyebaran informasi melalui radio, televisi, dan posko-posko darurat.